Home » Posts filed under SAINS
SELO, Mobil Listrik Nasional Generasi ke 2
Geliat mobil listrik memang berhasil dipopulerkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan.
Pembuatan mobil listrik oleh anak negeri bertujuan agar Indonesia mampu
bersaing dengan negara lain seperti Jepang atau Amerika. Itu adalah
cita-cita dan harapan Dahlan.
Bisa dibilang, Dahlan adalah salah satu tokoh dan pejabat yang paling
bersemangat dan berambisi menjadikan mobil listrik sebagai mobil
nasional.
Selo adalah mobil sport listrik generasi kedua setelah Tuxuci yang kelahirannya di gagas oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan
bersama tim Putra Petir pimpinan Ricky Elson. Menurut Dahlan Iskan nama
Selo diambil dari bahasa Jawa yang berarti batu. Setelah generasi
pertama mobil listrik Tucuxi, generasi kedua mobil listrik memilih nama
yang lebih Indonesia, seperti Selo, Gendhi s dan Ahmadi.
Dibekali dengan motor 135 kw Selo menghasilkan peforma 180 tenaga
kuda. Dengan kemampuan ini, Selo bisa melaju hingga 220 km/h. Selain
dapur pacu yang dahsyat, Selo juga memiliki desain sporty dan head lamp
tajam sehingga membuat tampilannya sangat menarik.
Perancang Selo Ricky Elson punya mimpi besar pasca lahirnya mobil listrik generasi kedua ini. Ricky ingin mobil yang desainnya mirip Lamborghini ini suatu saat bisa bersaing dengan mobil sport mewah dunia sekelas Ferrari.
Namun sebagai inisitor mobil listrik nasional, Dahlan Iskan justru mengaku sedih, karena hingga saat ini Selo masih belum mendapatkan izin uji kelaikan di jalan raya. Dahlan mengaku tidak berani menguji mobil listrik di jalanan tanpa izin. Selain itu, jika izin tak juga diberikan maka mobil listrik hanya akan menjadi sampah di jalanan.
Sebagai penggagas kelahiran Selo, Dahlan sadar mobil listrik merupakan kebutuhan dunia di masa depan. Jika tidak dikembangkan dari sekarang, dapat dipastikan Indonesia akan dibanjiri mobil listrik impor.
“Mobil listrik masa depan 15 tahun lagi. Kalau kita tidak menyiapkan diri dari sekarang, kita akan diserbu mobil listrik asing dan kita jadi konsumen lagi. Mobil listrik kita sudah siap, tapi sampai sekarang saya tidak berani di jalan raya karena izin tidak ada,” tegasnya.
Lebih lanjut Dahlan menjelaskan, sebenarnya dengan meproduksi mobil listrik sendiri Indonesia dapat menghemat banyak anggaran. Setidaknya, biaya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tahun ini mencapai Rp 240 triliun dan akan terus bertambah di masa mendatang dapat ditekan pengeluarannya dan dialihkan untuk membiayai program-program pemerintah yang lain.
Saat Menristek mencoba langsung mengendarai Selo mengatakan tidak merasakan perbedaan mobil listrik dengan mobil biasa. "Sama mengendarai mobil biasa, tapi tentunya perbedaannya soal energinya pakai listrik dan ramah lingkungan," kata Gusti.
Setelah uji coba terakhir, bukan tidak mungkin Menristek akan mengusulkan untuk melakukan produksi masal pada tahun 2015 mendatang. "Ini uji coba sudah masuk level 7 lah, setelah sampai level 9 dan uji coba di alam nyata, kita akan produksi massal," imbuh Gusti, dikutip dari Merdeka, Jumat 22/11.
Selo
mobil bertenaga listrik dengan motor listrik tunggal bertenaga 107
tenaga kuda. Motor tersebut digabung dengan transmisi otomatis
6-percepatan dan didukung dengan paket baterai 360V. Dengan kemampuan
tersebut Selo mampu menembus kecepatan tertinggi hingga 200 km/jam.
Sumber : SELO SPORT OTOSIA
Perancang Selo Ricky Elson punya mimpi besar pasca lahirnya mobil listrik generasi kedua ini. Ricky ingin mobil yang desainnya mirip Lamborghini ini suatu saat bisa bersaing dengan mobil sport mewah dunia sekelas Ferrari.
Namun sebagai inisitor mobil listrik nasional, Dahlan Iskan justru mengaku sedih, karena hingga saat ini Selo masih belum mendapatkan izin uji kelaikan di jalan raya. Dahlan mengaku tidak berani menguji mobil listrik di jalanan tanpa izin. Selain itu, jika izin tak juga diberikan maka mobil listrik hanya akan menjadi sampah di jalanan.
Sebagai penggagas kelahiran Selo, Dahlan sadar mobil listrik merupakan kebutuhan dunia di masa depan. Jika tidak dikembangkan dari sekarang, dapat dipastikan Indonesia akan dibanjiri mobil listrik impor.
“Mobil listrik masa depan 15 tahun lagi. Kalau kita tidak menyiapkan diri dari sekarang, kita akan diserbu mobil listrik asing dan kita jadi konsumen lagi. Mobil listrik kita sudah siap, tapi sampai sekarang saya tidak berani di jalan raya karena izin tidak ada,” tegasnya.
Lebih lanjut Dahlan menjelaskan, sebenarnya dengan meproduksi mobil listrik sendiri Indonesia dapat menghemat banyak anggaran. Setidaknya, biaya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tahun ini mencapai Rp 240 triliun dan akan terus bertambah di masa mendatang dapat ditekan pengeluarannya dan dialihkan untuk membiayai program-program pemerintah yang lain.
Saat Menristek mencoba langsung mengendarai Selo mengatakan tidak merasakan perbedaan mobil listrik dengan mobil biasa. "Sama mengendarai mobil biasa, tapi tentunya perbedaannya soal energinya pakai listrik dan ramah lingkungan," kata Gusti.
Setelah uji coba terakhir, bukan tidak mungkin Menristek akan mengusulkan untuk melakukan produksi masal pada tahun 2015 mendatang. "Ini uji coba sudah masuk level 7 lah, setelah sampai level 9 dan uji coba di alam nyata, kita akan produksi massal," imbuh Gusti, dikutip dari Merdeka, Jumat 22/11.
Sumber : SELO SPORT OTOSIA
NYONYA MENEER, PELOPOR PERUSAHAAN JAMU INDONESIA
Lauw Ping Nio alias Nyonya Meneer (baca: Menir) (lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895 \- wafat tahun 1978) adalah seorang wirausahawan di bidang industri jamu di Indonesia.
Namanya berasal dari beras menir, yaitu sisa butir halus penumbukan
padi. Ibunya mengidam dan memakan beras ini sehingga pada waktu bayi
yang dikandungnya lahir kemudian diberi nama Menir. Karena pengaruh
ejaan Belanda ejaan Menir berubah menjadi Meneer.
Ibu Meneer merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia menikah
dengan pria asal Surabaya, dan kemudian pindah ke Semarang. Pada masa
pendudukan Belanda tahun 1900an, di masa-masa penuh keprihatinan dan
sulit itu suaminya sakit keras dan berbagai upaya penyembuhan sia-sia.
Ibu Meneer mencoba meramu jamu
Jawa yang diajarkan orang tuanya dan suaminya sembuh. Sejak saat itu,
Ibu Meneer lebih giat lagi meramu jamu Jawa untuk menolong keluarga,
tetangga, kerabat maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan. Ia
mencantumkan nama dan potretnya pada kemasan jamu yang ia buat dengan
maksud membina hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat yang lebih
luas. Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus
memperluas penjualan ke kota-kota sekitarJamu Cap Potret Nyonya Meneer ( PT Nyonya Meneer) adalah salah perusahaan Indonesia yang memproduksi jamu tradisional Jawa. Perusahaan yang berdiri sejak 1919 ini pabriknya berada di Semarang, Jawa Tengah. Pasarannya kini merambah pada pasar internasional, dan dipasarkan ke tiga benua yaitu Asia, Eropa, dan Amerika dan ke 12 negara termasuk Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan dan Cina. Produk Nyonya Meneer didominasi oleh produk untuk kepentingan wanita dalam bentuk Pasarannya kini merambah pada pasar internasional, dan dipasarkan ke tiga benuam yaitu Asia, Eropa, dan Amerika dan ke 12 negara termasuk Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan dan Cina.
Berdirinya perusahaan ini diawali oleh keterbatasan Nyonya Meneer yang hidup di tengah masyarakat terjajah dengan suami yang sakit keras. Keterbatasan ini memaksa Nyonya Meneer yang hanya memiliki sedikit bekal pengetahuan tentang perjamuan jawa untuk meracik sendiri jamu untuk kesembuhan suaminya. Tanpa disangka penyakit suaminya yang tidak kunjung sembuh dengan bantuan obat-obatan malah sembuh dengan jamu racikan Nyonya Meneer.
Nyonya Meneer yang ringan tangan kemudian mulai membantu kerabat, tetangga, dan orang-orang disekitarnya yang diserang demam, sakit kepala, masuk angin dan terserang berbagai penyakit ringan lainnya. Sebagian besar yang mencobanya puas. Dari sinilah, akhirnya Nyonya Meneer memulai usaha pembuatan jamu yang diwariskan turun temurun kepada anak dan cucu-cucunya. Usaha in mengalami kemajuan pesat pada tahun 1990-an.
Perusahaan Nyonya Meneer juga mengalami krisis operasional pada tahun 1984-2000 karena adanya sengketa perebutan kekuasaan hingga ke meja hijau. Media mencatat beberapa kali masalah-masalah pekerja dan pemogokan buruh terjadi pada tahun 2000 - 2001 di perusahaan jamu ini. Di antara lain: penuntutan pembayaran THR, pemogokan kerja, masalah HAM, dan demonstrasi. Operasional perusahaan yang saat itu dipegang oleh kelima cucu Nyonya Meneer akhirnya diambil oleh Charles Ong Saerang, salah satu cucu Nyonya Meneer yang membeli warisan cucu lainnya untuk mengakhiri perebutan kekuasaan. Sejak perbaikan manajemen dibawah kepemimpinan Charles Saerang, tidak tercatat lagi masalah kepegawaian di perusahaan ini.Sedangkan ke empat orang saudaranya dan setelah menerima bagian masing-masing, memilih untuk berpisah.
Nyonya Meneer juga telah mendirikan Museum Jamu Nyonya Meneer di Semarang yang menjadi museum jamu pertama di Indonesia pada tanggal 1984. Tujuan didirikannya museum ini adalah untuk menjadi cagar budaya yang dapat melestarikan warisan leluhur dan menjadi sarana pendidikan dan rekreasi generasi muda.Selain itu Nyinya Meneer juga menerbitkan buku pada 19 Februari 2002 yang berjudul "Sejarah Usaha Nyonya Meneer" setebal 250 halaman. Lima tahun kemudian, pada 11 Agustus 2007, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: Family Business-A Case Study of Nyonya Meneer, One of Indonesia’s Most Successful Traditional Medicine Companies.
Pada tahun 1940 melalui bantuan putrinya, Nonnie, yang hijrah ke Jakarta, berdirilah cabang toko Nyonya Meneer, di Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta.
Di tangan Ibu dan anak, Nyonya Meneer dan Hans Ramana perusahaan berkembang pesat.
Nyonya Meneer meninggal dunia tahun 1978, generasi kedua yaitu anaknya, Hans Ramana, yang juga mengelola bisnis bersama ibunya meninggal terlebih dahulu pada tahun 1976. Operasional perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi ketiga yakni ke lima cucu Nyonya Meneer.
Namun ke lima bersaudara ini kurang serasi dan menjatuhkan pilihan untuk berpisah.
Pembelajaran perusahaan keluarga Nyonya Meneer
Kasus perusahaan keluarga Nyonya Meneer dibukukan sebagai studi kasus, versi bahasa Inggrisnya dipublikasikan Equinox dan dipergunakan sebagai studi kasus ilmu pemasaran dan manajemen di sejumlah universitas di Amerika. Buku yang berjudul "Bisnis Keluarga: Studi Kasus Nyonya Meneer, Sebagai salah satu Perusahaan Obat Tradisional di Indonesia yang Tersukses" (Family Business: A Case Study of Nyonya Meneer, One of Indonesia's Most Successful Traditional Medicine Companies) diluncurkan di Puri Agung, Hotel Sahid Jaya Jakarta bertepatan dengan perayaan 88 tahun berdirinya Perusahaan Nyonya Meneer . Penerbitan buku ini kabarnya sempat ditentang oleh keturunan Nyonya Meneer karena secara jelas menceritakan strategi pemasaran produk jamu tradisional itu hingga merambah 12 negara. Buku ini menceritakan dari usaha minoritas menjadi mayoritas dan konflik yang terjadi di perusahaan keluarga ini. Begitu sengitnya pertikaian di tubuh PT Nyonya Meneer, Menaker Cosmas Batubara saat itu ikut turun tangan. Sebab, pertikaian antar keluarga sampai melibatkan ribuan pekerja perusahaan itu .Pemasaran ke luar negeri
Perusahaan jamu Nyonya Meneer pada tahun 2006 berhasil memperluas pemasaran jamu ke Taiwan sebagai bagian ekspansi perusahaan ke pasar luar negeri setelah sebelumnya berhasil memasuki Malaysia, Brunei, Australia, Belanda dan Amerika Serikat.Sekarang, PT. Nyonya Meneer telah dianggap sebagai ikon industri nasional dan herbal kosmetik tradisional. Terbesar dan tertua di negara Pemasaran dimulai oleh modern disesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satu cara untuk mendirikan Cafe Meneer di Jalan Hasanuddin, Solo, yang mulai tersebar di beberapa pusat perbelanjaan. Perusahaan juga telah melebarkan sayapnya ke pasar internasional dengan mencoba memenuhi permintaan ekspor ke beberapa negara
Sumber : berbagai sumber Website
SEJARAH JAMU INDONESIA YANG MENDUNIA
Siapa yang tak tahu tentang Minuman Sehat Herbal asli indonesia yang kerap disebut JAMU. Jamu adalah minuman yang digunakan untuk mengobati atau mencegah penyakit agar tubuh kita sehat. jamu berkembang sudah sejak dulu kala, bahkan ditambahnya pengaruh pedagang Gujarat dan turki, Penjajah dari Spanyol, Belanda dan Portugis hal ini juga menyebabkan perkembangan jamu semakin pesat dan mendunia.
1.Bukti sejarah ini ditunjukkan dengan penemuan prasasti tujuh Yupa
pada abad 5 M di Kalimantan Timur,yang bertuliskan huruf Palawa
menggunakan bahasa Sanskerta Diduga masyarakat Indonesia sudah mengenal
ilmu meracik dan minum minuman jamu.
2.Bukti lain sejarah tertua dalam pemanfaatan ramuan tumbuhan obat dapat
disaksikan ukir-ukiran relief pada Candi Borobudur yang dibangun pada
tahun 772 M , Prambanan,Penataran,Sukuh dan Tegalwangi. Diperlihatkan
pada relief candi Borobudur berbagai jenis tanaman obat endemik yang
sudah dipakai masyarakat sekitar candi pada saat itu, peracikan , minum
jamu , perawatan kesehatan tubuh luar dan dalam .
Seiring dengan perkembangan jaman , maka bentuk pembuatan jamu sudah
dikemas secara modern .Era ini dimulai pada awal abad 20 dengan
munculnya pabrik Jamu di bumi Nusantara seperti ”Jamu Iboe” tahun 1910
di Surabaya , ”Jamoe cap Djago” tahun 1918 di Semarang dan seterusnya
hingga sekarang tercatat di BPOM ada 1024 lebih perusahaan dengan
berbagai skala yang memproduksi lebih dari 10.000 macam produk , mulai
dari godogan , serbuk , pil sampai kapsul yang digunakan untuk perawatan
tubuh,pemeliharaan kesehatan , meningkatkan kebugaran,maupun pengobatan
penyakit , mulai dari produk yang dipasarkan di sekitar lingkungan
rumah sampai di eksport ke manca negara . Saat ini, diperkirakan ada
80% penduduk Indonesia pernah menggunakan produk olahan dari herbal
berupa jamu .
Berdasarkan bukti-bukti sejarah di atas maka Pemerintah dalam hal ini
Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui UU Nomor 23 tahun 1992
yang disempurnakan dengan UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Kesehatan
memberikan penjelasan bagaimana menyehatkan masyarakat berdasarkan
pengobatan secara tradisional memanfaatkan tanaman obat , mineral ,
sarian galenik , dan biota asli Indonesia dan melalui Badan Pengawasan
Obat dan Makanan (BPOM) sebagai badan yang mengawasi dan mengatur semua
produk obat dari bahan alam yang di konsumsi masyarakat , telah
menyusun berbagai aturan untuk diterapkan oleh para pengusaha industri
jamu.
Diharapkan para calon pengobat dan pembaca memahami dan
mengimplementasikan dalam keseharian dalam mengobati dan membuat ramuan
yang berbahan dasar sediaan alami Indonesia . keilmuan
pengobatan tradisional ramuan Indonesia memanfaatkan keanekaragaman
hayati dan sumber daya alam bumi Nusantara ini. Sehingga obat
tradisional Indonesia menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri dan sejajar
serta menjadi tamu diberbagai negara-negara didunia
Sumber : herbalkuherbal
MBAH MOEDJAIR, SANG PENEMU IKAN MUJAIR YANG MENDUNIA
Mujair
adalah nama seorang bapak yang pada tahun 1939 menemukan ikan yang
pada akhirnya dinamai dengan nama yang sama di muara sungai Serang,
Blitar.Beliau berhasil mengembangbiakkan ikan yang bukan asli perairan
Indonesia dan menjadi populer hingga sekarang. (baru tau ternyata mujair
ntu nama orang) pak mujair itu mengembangbiakkan ikan yang aslinya
ikan laut menjadi ikan air tawar ...!!!
Mbah Moedjair memiliki nama asli Iwan Muluk lahir pada tahun 1890 di desa Kuningan (3 km arah timur dari pusat kota Blitar, Jawa Timur). Beliau menikah dengan Partimah dan memiliki 7 orang anak. Hingga saat ini hanya tinggal dua orang anak Mbah Moedjair yang masih hidup dan bisa bercerita tentang perjuangan orang tuanya.
Semasa hidupnya Mbah Moedjair memiliki sebuah warung sate yang sangat populer di kalangan masyarakat Blitar. Namun karena Mbah Moedjair memiliki kebiasaan berjudi, pada akhirnya usaha satenya mengalami kerugian yang membuat beliau mulai terpuruk.
Di tengah keterpurukannya ini, kepala desa Papungan, Pak Muraji mengajaknya melakukan tirakat di Pantai Serang setiap tanggal 1 Suro penanggalan Jawa. Nah di pantai inilah Mbah Moedjair menemukan sekelompok ikan yang menarik perhatiannya. Ikan ini sangat unik, mereka menyembunyikan anak-anaknya di mulut pada saat terancam bahaya. Rasa tertarik rupanya membuat Mbah Moedjair membawa beberapa ekor ikan baru tersebut untuk dipelihara di rumahnya.
Dikarenakan habitat yang berbeda tentu saja ikan yang dibawa Mbah Moedjair dari pantai tersebut tidak bisa bertahan hidup di air tawar. Namun Mbah Moedjair tak patah semangat. Beliau mulai rajin melakukan riset dengan tekat bahwa ikan ini harus bisa hidup di habitat air tawar. Beliau mulai merubah-rubah komposisi air tawar dan air laut hingga menemukan campuran yang tepat untuk memelihara ikan baru ini. Menurut penuturan anak Mbah Moedjair, usaha gigih tersebut berhasil pada percobaan ke-11 dengan 4 ekor ikan. Perlu diketahui, untuk setiap percobaan, Mbah Moedjair harus pulang pergi ke Pantai Serang dari desa Papungan yang jaraknya 35km dengan berjalan kaki melintasi hutan selama dua hari, pulang dan pergi.
Keberhasilan Mbah Moedjair membawa ikan jenis baru ke kolam halaman rumahnya membuat nama Mbah Moedjair menjadi lekas terkenal. Dari satu kolam kemudian berkembang menjadi tiga. Ikan hasil budidayanya dibagi-bagikan ke tetangga dan sisanya di jual ke pasar dan dijajakan dengan sepeda kumbang.
Berita mengenai Mbah Moedjair juga rupanya menarik perhatian Asisten Resident (penguasa wilayah Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda) yang berkedudukan di Kediri. Asisten Resident yang juga seorang peneliti tersebut kemudian melakukan penelitian mendalam tentang ikan spesies baru sekaligus mewawancarai Mbah Moedjair. Berdasar hasil penelitian dan literatur yang ada, diketahui bahwa spesies ikan Mbah Moedjair berasal dari perairan laut Afrika.
Kemudian sebagai bentuk penghargaan atas usahanya selama ini, Asisten Resident memberikan nama ikan spesies baru ini sesuai dengan nama penemunya, yaitu moedair (mujair).
Perkembangan selanjutnya, Mbah Moedjair banyak menerima anugerah penghargaan dari berbagai pihak karena ikan hasil temuannya disukai banyak orang bahkan sudah mulai mendunia.
Beberapa penghargaan yang diterima Mbah Moedjair diantaranya adalah dari Eksekutip Committee Indo Pasifik Fisheries Council pada tahun 1954.
Sementara penghargaan dari pemerintah Indonesia diterima pada 17 Agustus 1951 dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia.
Mbah Moedjair meninggal pada tanggal 7 September 1957 karena penyakit asma dan kemudian dimakamkan di Blitar. Batu nisan makamnya bertuliskan “MOEDJAIR, PENEMU IKAN MOEDJAIR” lengkap dengan ukiran ikan mujair
Mbah Moedjair memiliki nama asli Iwan Muluk lahir pada tahun 1890 di desa Kuningan (3 km arah timur dari pusat kota Blitar, Jawa Timur). Beliau menikah dengan Partimah dan memiliki 7 orang anak. Hingga saat ini hanya tinggal dua orang anak Mbah Moedjair yang masih hidup dan bisa bercerita tentang perjuangan orang tuanya.
Semasa hidupnya Mbah Moedjair memiliki sebuah warung sate yang sangat populer di kalangan masyarakat Blitar. Namun karena Mbah Moedjair memiliki kebiasaan berjudi, pada akhirnya usaha satenya mengalami kerugian yang membuat beliau mulai terpuruk.
Di tengah keterpurukannya ini, kepala desa Papungan, Pak Muraji mengajaknya melakukan tirakat di Pantai Serang setiap tanggal 1 Suro penanggalan Jawa. Nah di pantai inilah Mbah Moedjair menemukan sekelompok ikan yang menarik perhatiannya. Ikan ini sangat unik, mereka menyembunyikan anak-anaknya di mulut pada saat terancam bahaya. Rasa tertarik rupanya membuat Mbah Moedjair membawa beberapa ekor ikan baru tersebut untuk dipelihara di rumahnya.
Dikarenakan habitat yang berbeda tentu saja ikan yang dibawa Mbah Moedjair dari pantai tersebut tidak bisa bertahan hidup di air tawar. Namun Mbah Moedjair tak patah semangat. Beliau mulai rajin melakukan riset dengan tekat bahwa ikan ini harus bisa hidup di habitat air tawar. Beliau mulai merubah-rubah komposisi air tawar dan air laut hingga menemukan campuran yang tepat untuk memelihara ikan baru ini. Menurut penuturan anak Mbah Moedjair, usaha gigih tersebut berhasil pada percobaan ke-11 dengan 4 ekor ikan. Perlu diketahui, untuk setiap percobaan, Mbah Moedjair harus pulang pergi ke Pantai Serang dari desa Papungan yang jaraknya 35km dengan berjalan kaki melintasi hutan selama dua hari, pulang dan pergi.
Keberhasilan Mbah Moedjair membawa ikan jenis baru ke kolam halaman rumahnya membuat nama Mbah Moedjair menjadi lekas terkenal. Dari satu kolam kemudian berkembang menjadi tiga. Ikan hasil budidayanya dibagi-bagikan ke tetangga dan sisanya di jual ke pasar dan dijajakan dengan sepeda kumbang.
Berita mengenai Mbah Moedjair juga rupanya menarik perhatian Asisten Resident (penguasa wilayah Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda) yang berkedudukan di Kediri. Asisten Resident yang juga seorang peneliti tersebut kemudian melakukan penelitian mendalam tentang ikan spesies baru sekaligus mewawancarai Mbah Moedjair. Berdasar hasil penelitian dan literatur yang ada, diketahui bahwa spesies ikan Mbah Moedjair berasal dari perairan laut Afrika.
Kemudian sebagai bentuk penghargaan atas usahanya selama ini, Asisten Resident memberikan nama ikan spesies baru ini sesuai dengan nama penemunya, yaitu moedair (mujair).
Perkembangan selanjutnya, Mbah Moedjair banyak menerima anugerah penghargaan dari berbagai pihak karena ikan hasil temuannya disukai banyak orang bahkan sudah mulai mendunia.
Beberapa penghargaan yang diterima Mbah Moedjair diantaranya adalah dari Eksekutip Committee Indo Pasifik Fisheries Council pada tahun 1954.
Sementara penghargaan dari pemerintah Indonesia diterima pada 17 Agustus 1951 dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia.
Mbah Moedjair meninggal pada tanggal 7 September 1957 karena penyakit asma dan kemudian dimakamkan di Blitar. Batu nisan makamnya bertuliskan “MOEDJAIR, PENEMU IKAN MOEDJAIR” lengkap dengan ukiran ikan mujair
YANG HARUS DINGAT
-
Mal Ratu Luwes di Pasar Legi yang terbakar Pada Kerusuhan Mei 1998 Masih segar teringat diingatan kita semua tragedi 16 tahun silam...
-
Soe Hok Gie Sosoknya sangat terkenal karena tulisannya yang sangat kritis terhadap pemerintah orde lama dan orde baru meskipun ia meni...
-
Lomba Desain Logo Oi yang diselenggarakan oleh Yayasan Orang Indonesia (YOI) diikuti ratusan peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 di Des...
-
Kepemimpinan Orde Baru dibuat geger pada 15 Januari 1974, persis 40 tahun lalu. Timbul perlawanan pertama digalang mahasiswa...
-
Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kali diselenggarakan oleh Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), pada tahun 1949. ...
-
Brigadir Jenderal Ignatius Slamet Rijadi (dibaca : Ignatius Slamet Riyadi ; lahir di Surakarta, 26 Juli 1927 – meninggal di Ambon,...
-
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ( Suwardi Suryaningrat , sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara , EYD: Ki Hajar Dewantara , beberapa...
-
Republik Turki, yang dahulu negara berbentuk monarki yang terkenal dengan nama OTTOMAN, atau Ottoman Empire. Ottoman atau Turki Utsmani m...
-
Pemilu 1955 adalah perhelatan pesta demokrasi pertama yang diselenggarakan bangsa ini, dan juga merupakan satu-satunya pemilu yang te...
-
Lauw Ping Nio alias Nyonya Meneer (baca: Menir) (lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895 \ - wafat tahun 1978) adalah seoran...
ARTIKEL LAINNYA
