Home » Posts filed under PENEMUANDLM
SEJARAH JAMU INDONESIA YANG MENDUNIA
Siapa yang tak tahu tentang Minuman Sehat Herbal asli indonesia yang kerap disebut JAMU. Jamu adalah minuman yang digunakan untuk mengobati atau mencegah penyakit agar tubuh kita sehat. jamu berkembang sudah sejak dulu kala, bahkan ditambahnya pengaruh pedagang Gujarat dan turki, Penjajah dari Spanyol, Belanda dan Portugis hal ini juga menyebabkan perkembangan jamu semakin pesat dan mendunia.
1.Bukti sejarah ini ditunjukkan dengan penemuan prasasti tujuh Yupa
pada abad 5 M di Kalimantan Timur,yang bertuliskan huruf Palawa
menggunakan bahasa Sanskerta Diduga masyarakat Indonesia sudah mengenal
ilmu meracik dan minum minuman jamu.
2.Bukti lain sejarah tertua dalam pemanfaatan ramuan tumbuhan obat dapat
disaksikan ukir-ukiran relief pada Candi Borobudur yang dibangun pada
tahun 772 M , Prambanan,Penataran,Sukuh dan Tegalwangi. Diperlihatkan
pada relief candi Borobudur berbagai jenis tanaman obat endemik yang
sudah dipakai masyarakat sekitar candi pada saat itu, peracikan , minum
jamu , perawatan kesehatan tubuh luar dan dalam .
Seiring dengan perkembangan jaman , maka bentuk pembuatan jamu sudah
dikemas secara modern .Era ini dimulai pada awal abad 20 dengan
munculnya pabrik Jamu di bumi Nusantara seperti ”Jamu Iboe” tahun 1910
di Surabaya , ”Jamoe cap Djago” tahun 1918 di Semarang dan seterusnya
hingga sekarang tercatat di BPOM ada 1024 lebih perusahaan dengan
berbagai skala yang memproduksi lebih dari 10.000 macam produk , mulai
dari godogan , serbuk , pil sampai kapsul yang digunakan untuk perawatan
tubuh,pemeliharaan kesehatan , meningkatkan kebugaran,maupun pengobatan
penyakit , mulai dari produk yang dipasarkan di sekitar lingkungan
rumah sampai di eksport ke manca negara . Saat ini, diperkirakan ada
80% penduduk Indonesia pernah menggunakan produk olahan dari herbal
berupa jamu .
Berdasarkan bukti-bukti sejarah di atas maka Pemerintah dalam hal ini
Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui UU Nomor 23 tahun 1992
yang disempurnakan dengan UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Kesehatan
memberikan penjelasan bagaimana menyehatkan masyarakat berdasarkan
pengobatan secara tradisional memanfaatkan tanaman obat , mineral ,
sarian galenik , dan biota asli Indonesia dan melalui Badan Pengawasan
Obat dan Makanan (BPOM) sebagai badan yang mengawasi dan mengatur semua
produk obat dari bahan alam yang di konsumsi masyarakat , telah
menyusun berbagai aturan untuk diterapkan oleh para pengusaha industri
jamu.
Diharapkan para calon pengobat dan pembaca memahami dan
mengimplementasikan dalam keseharian dalam mengobati dan membuat ramuan
yang berbahan dasar sediaan alami Indonesia . keilmuan
pengobatan tradisional ramuan Indonesia memanfaatkan keanekaragaman
hayati dan sumber daya alam bumi Nusantara ini. Sehingga obat
tradisional Indonesia menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri dan sejajar
serta menjadi tamu diberbagai negara-negara didunia
Sumber : herbalkuherbal
MBAH MOEDJAIR, SANG PENEMU IKAN MUJAIR YANG MENDUNIA
Mujair
adalah nama seorang bapak yang pada tahun 1939 menemukan ikan yang
pada akhirnya dinamai dengan nama yang sama di muara sungai Serang,
Blitar.Beliau berhasil mengembangbiakkan ikan yang bukan asli perairan
Indonesia dan menjadi populer hingga sekarang. (baru tau ternyata mujair
ntu nama orang) pak mujair itu mengembangbiakkan ikan yang aslinya
ikan laut menjadi ikan air tawar ...!!!
Mbah Moedjair memiliki nama asli Iwan Muluk lahir pada tahun 1890 di desa Kuningan (3 km arah timur dari pusat kota Blitar, Jawa Timur). Beliau menikah dengan Partimah dan memiliki 7 orang anak. Hingga saat ini hanya tinggal dua orang anak Mbah Moedjair yang masih hidup dan bisa bercerita tentang perjuangan orang tuanya.
Semasa hidupnya Mbah Moedjair memiliki sebuah warung sate yang sangat populer di kalangan masyarakat Blitar. Namun karena Mbah Moedjair memiliki kebiasaan berjudi, pada akhirnya usaha satenya mengalami kerugian yang membuat beliau mulai terpuruk.
Di tengah keterpurukannya ini, kepala desa Papungan, Pak Muraji mengajaknya melakukan tirakat di Pantai Serang setiap tanggal 1 Suro penanggalan Jawa. Nah di pantai inilah Mbah Moedjair menemukan sekelompok ikan yang menarik perhatiannya. Ikan ini sangat unik, mereka menyembunyikan anak-anaknya di mulut pada saat terancam bahaya. Rasa tertarik rupanya membuat Mbah Moedjair membawa beberapa ekor ikan baru tersebut untuk dipelihara di rumahnya.
Dikarenakan habitat yang berbeda tentu saja ikan yang dibawa Mbah Moedjair dari pantai tersebut tidak bisa bertahan hidup di air tawar. Namun Mbah Moedjair tak patah semangat. Beliau mulai rajin melakukan riset dengan tekat bahwa ikan ini harus bisa hidup di habitat air tawar. Beliau mulai merubah-rubah komposisi air tawar dan air laut hingga menemukan campuran yang tepat untuk memelihara ikan baru ini. Menurut penuturan anak Mbah Moedjair, usaha gigih tersebut berhasil pada percobaan ke-11 dengan 4 ekor ikan. Perlu diketahui, untuk setiap percobaan, Mbah Moedjair harus pulang pergi ke Pantai Serang dari desa Papungan yang jaraknya 35km dengan berjalan kaki melintasi hutan selama dua hari, pulang dan pergi.
Keberhasilan Mbah Moedjair membawa ikan jenis baru ke kolam halaman rumahnya membuat nama Mbah Moedjair menjadi lekas terkenal. Dari satu kolam kemudian berkembang menjadi tiga. Ikan hasil budidayanya dibagi-bagikan ke tetangga dan sisanya di jual ke pasar dan dijajakan dengan sepeda kumbang.
Berita mengenai Mbah Moedjair juga rupanya menarik perhatian Asisten Resident (penguasa wilayah Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda) yang berkedudukan di Kediri. Asisten Resident yang juga seorang peneliti tersebut kemudian melakukan penelitian mendalam tentang ikan spesies baru sekaligus mewawancarai Mbah Moedjair. Berdasar hasil penelitian dan literatur yang ada, diketahui bahwa spesies ikan Mbah Moedjair berasal dari perairan laut Afrika.
Kemudian sebagai bentuk penghargaan atas usahanya selama ini, Asisten Resident memberikan nama ikan spesies baru ini sesuai dengan nama penemunya, yaitu moedair (mujair).
Perkembangan selanjutnya, Mbah Moedjair banyak menerima anugerah penghargaan dari berbagai pihak karena ikan hasil temuannya disukai banyak orang bahkan sudah mulai mendunia.
Beberapa penghargaan yang diterima Mbah Moedjair diantaranya adalah dari Eksekutip Committee Indo Pasifik Fisheries Council pada tahun 1954.
Sementara penghargaan dari pemerintah Indonesia diterima pada 17 Agustus 1951 dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia.
Mbah Moedjair meninggal pada tanggal 7 September 1957 karena penyakit asma dan kemudian dimakamkan di Blitar. Batu nisan makamnya bertuliskan “MOEDJAIR, PENEMU IKAN MOEDJAIR” lengkap dengan ukiran ikan mujair
Mbah Moedjair memiliki nama asli Iwan Muluk lahir pada tahun 1890 di desa Kuningan (3 km arah timur dari pusat kota Blitar, Jawa Timur). Beliau menikah dengan Partimah dan memiliki 7 orang anak. Hingga saat ini hanya tinggal dua orang anak Mbah Moedjair yang masih hidup dan bisa bercerita tentang perjuangan orang tuanya.
Semasa hidupnya Mbah Moedjair memiliki sebuah warung sate yang sangat populer di kalangan masyarakat Blitar. Namun karena Mbah Moedjair memiliki kebiasaan berjudi, pada akhirnya usaha satenya mengalami kerugian yang membuat beliau mulai terpuruk.
Di tengah keterpurukannya ini, kepala desa Papungan, Pak Muraji mengajaknya melakukan tirakat di Pantai Serang setiap tanggal 1 Suro penanggalan Jawa. Nah di pantai inilah Mbah Moedjair menemukan sekelompok ikan yang menarik perhatiannya. Ikan ini sangat unik, mereka menyembunyikan anak-anaknya di mulut pada saat terancam bahaya. Rasa tertarik rupanya membuat Mbah Moedjair membawa beberapa ekor ikan baru tersebut untuk dipelihara di rumahnya.
Dikarenakan habitat yang berbeda tentu saja ikan yang dibawa Mbah Moedjair dari pantai tersebut tidak bisa bertahan hidup di air tawar. Namun Mbah Moedjair tak patah semangat. Beliau mulai rajin melakukan riset dengan tekat bahwa ikan ini harus bisa hidup di habitat air tawar. Beliau mulai merubah-rubah komposisi air tawar dan air laut hingga menemukan campuran yang tepat untuk memelihara ikan baru ini. Menurut penuturan anak Mbah Moedjair, usaha gigih tersebut berhasil pada percobaan ke-11 dengan 4 ekor ikan. Perlu diketahui, untuk setiap percobaan, Mbah Moedjair harus pulang pergi ke Pantai Serang dari desa Papungan yang jaraknya 35km dengan berjalan kaki melintasi hutan selama dua hari, pulang dan pergi.
Keberhasilan Mbah Moedjair membawa ikan jenis baru ke kolam halaman rumahnya membuat nama Mbah Moedjair menjadi lekas terkenal. Dari satu kolam kemudian berkembang menjadi tiga. Ikan hasil budidayanya dibagi-bagikan ke tetangga dan sisanya di jual ke pasar dan dijajakan dengan sepeda kumbang.
Berita mengenai Mbah Moedjair juga rupanya menarik perhatian Asisten Resident (penguasa wilayah Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda) yang berkedudukan di Kediri. Asisten Resident yang juga seorang peneliti tersebut kemudian melakukan penelitian mendalam tentang ikan spesies baru sekaligus mewawancarai Mbah Moedjair. Berdasar hasil penelitian dan literatur yang ada, diketahui bahwa spesies ikan Mbah Moedjair berasal dari perairan laut Afrika.
Kemudian sebagai bentuk penghargaan atas usahanya selama ini, Asisten Resident memberikan nama ikan spesies baru ini sesuai dengan nama penemunya, yaitu moedair (mujair).
Perkembangan selanjutnya, Mbah Moedjair banyak menerima anugerah penghargaan dari berbagai pihak karena ikan hasil temuannya disukai banyak orang bahkan sudah mulai mendunia.
Beberapa penghargaan yang diterima Mbah Moedjair diantaranya adalah dari Eksekutip Committee Indo Pasifik Fisheries Council pada tahun 1954.
Sementara penghargaan dari pemerintah Indonesia diterima pada 17 Agustus 1951 dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia.
Mbah Moedjair meninggal pada tanggal 7 September 1957 karena penyakit asma dan kemudian dimakamkan di Blitar. Batu nisan makamnya bertuliskan “MOEDJAIR, PENEMU IKAN MOEDJAIR” lengkap dengan ukiran ikan mujair
YANG HARUS DINGAT
-
Mal Ratu Luwes di Pasar Legi yang terbakar Pada Kerusuhan Mei 1998 Masih segar teringat diingatan kita semua tragedi 16 tahun silam...
-
Soe Hok Gie Sosoknya sangat terkenal karena tulisannya yang sangat kritis terhadap pemerintah orde lama dan orde baru meskipun ia meni...
-
Lomba Desain Logo Oi yang diselenggarakan oleh Yayasan Orang Indonesia (YOI) diikuti ratusan peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 di Des...
-
Kepemimpinan Orde Baru dibuat geger pada 15 Januari 1974, persis 40 tahun lalu. Timbul perlawanan pertama digalang mahasiswa...
-
Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kali diselenggarakan oleh Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), pada tahun 1949. ...
-
Brigadir Jenderal Ignatius Slamet Rijadi (dibaca : Ignatius Slamet Riyadi ; lahir di Surakarta, 26 Juli 1927 – meninggal di Ambon,...
-
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ( Suwardi Suryaningrat , sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara , EYD: Ki Hajar Dewantara , beberapa...
-
Republik Turki, yang dahulu negara berbentuk monarki yang terkenal dengan nama OTTOMAN, atau Ottoman Empire. Ottoman atau Turki Utsmani m...
-
Pemilu 1955 adalah perhelatan pesta demokrasi pertama yang diselenggarakan bangsa ini, dan juga merupakan satu-satunya pemilu yang te...
-
Lauw Ping Nio alias Nyonya Meneer (baca: Menir) (lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895 \ - wafat tahun 1978) adalah seoran...
ARTIKEL LAINNYA
